expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Senin, 29 September 2014

Satu hari

Malam mana yang panjang.
Dibungkam gaduh hati yang berontak.
Waktu menegeja dalam detik.
Berakhir bulan atau tahun.
Berakhir harap dan cemas.

Pagi yang selalu datang.
Lebih cepat dari mata yang terbuka.
Menyisakan terik.
Mengubah putih jadi hitam.
Mengubah sejuk jadi jenuh.

Petang datang bersenandung.
Metafora hasil harapan.
Yang mati ditelan matahari.
Menuju malam yang panjang.
Menuju malam yang pendek.

Jika langkah menurun, tegakanlah harinya.
Atau diamlah.
Semacam protes keluh yang disisa.
Dalam obrolan malam pendek.
Dihanyut kantuk.


Entah mimpi apa yang terjadi semalam.
Percayalah pada yang baik.
Karna resah dapat berkurang.
Pada pagi yang datang, pada saat yang tepat.

Kamis, 11 September 2014

Pengabul Doa

Pada burung kertas yang kulipat hingga beratus-ratus.
Benarkah engkau dapat mengabulkan permintaan?

Pada langit malam bertabur bintang, hingga salah satunya jatuh.
Benarkah aku dapat meminta dan hal tersebut akan dikabulkan?

Pada hujan di sore hari, hingga deras derunya mengantam telinga.
Benarkah harapan yang diucap akan terkabul?

Pada malam hening yang bertuan tusukan angin.
Benarkah setiap bacaan-bacaan yang terlantun akan menjadi nyata?


Jika benar itu adanya.
Biarkan aku meminta.
Untuk tidak sendiri, karna sendiri mematikan.

Jika benar itu adanya.
Biarkan aku memohon.
Untuk selalu menjadi kuat, dalam kondisi apapun.

Jika itu benar adanya.
Biarkan aku melantunkan bunyi.
Untuk kembali pada masa yang dirasa pantas.

Jika benar itu adanya.
Biarkan aku berdoa.
Untuk tidak menyesali sgala yang terjadi.






......... September, 2014 ...........

Jumat, 18 April 2014

Tet! Mengulang ulang kata


Jejak-jejak yang ditingalkan keangan-kenangan masa lalu. Beribu-ribu mil telah terlewati namun bayang-bayang masih terus menghantui. Bukan tentang kesendirian aku rasa namun rasanya ini tentang kepercayaan bahwa engkau masih disini. Berfikir bahwa kita hanya terpisah pada ribuan cahaya malam kota, namun yang sesungguhnya terjadi engkau telah melayang-layang menuju surga menutup pintu untuk dapat kembali berada disini.

Hantu-hantu penunggu kenangan masa lalu. Aku heran mengapa ia pandai menggoda manusia membuat semua khayalan terlihat nyata dan membuat yang nyata menjadi samar.

Lagi, bukan soal kesendirian. Ini soal kamu kamu kamu dan kamu yang masi ada disini disini disini. Dan lihat sekarang aku kembali meneriakan namamu dan terpantul-pantul dalam fikiranku. Bukan sesak yang kudapat namun rasanya aku kembali jatuh cinta pada namamu.

Jika pengulangan itu rasanya berarti mungkin aku akan terus mengulang dan mengulang sampai payah dan lelah. Jika pengulang menimbulkan sebuah sebab akibat yang besar mungkin aku akan mengulangnya sampai terkapar. Jika semua itu benar adanya maka aku akan mengulanya lagi dan lagi.

Minggu, 23 Februari 2014

Kutemukan Kamu, dalam Angin Sore

Aku kembali menemukanmu dalam angin sore, dalam sejuk yang berdesir.
Mengikuti kemana angin berhembus.

Awalnya aku hanya ingin mencari tenang riak ombak, namun sialnya aku malah tergulung semakin dalam.
Aku menemukanmu dalam bentuk yang berbeda. Segala yang tidak masuk akal melebur menjadi satu sampai aku tidak dapat membedakannya lagi. se-ringan itu semua terjadi dan kemudian semudah itu pula aku membawa perasaan.

Sampai aku bertemu tentang tanda tanya. Semua terbungkam tanpa ada suara bergetar menggema memantul di gendang telingaku. Aku kira, aku menemukan kamu didalam kamu yang berbeda. Ternyata tetap kamu yang sama. Apa kamu mungkin secepat itu ber-reinkarnasi? Kembali ingin mengetahui bertapa kedelainya aku yang kembali jatuh.

Aku yang menemukanmu kembali dalam angin sore. Aku yang tak akan mengikuti kemana angin berhembus lagi, karena ia akan pergi terlalu cepat, karena ia akan tetap semu. Kelak ketika aku menemukan kamu atau dia lagi aku akan bergeming.

Aku janji.

Janji harus ditepati.