expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Senin, 11 Februari 2013

Senandung malam

Jengah dengan semua kebisingan terlalu penat disini. Sampai kosong rasanya lebih baik untuk memperbaiki apa yang rusak. Biarkan berdua dengan cakrawala penghanyut rasa. Bila belum terjawab jiwaku kan lepas dari tubuh ini. Mencari sendiri, tanpa perlu raga yang terlalu kotor ini. Meninggalkan sebuah nama yang tak terlalu hebat. Hanya sebuah ukiran nama di sebuah kayu di atas gundukan tanah. Hingga akhirnya pecah hujan mata. Melelehkan jiwa. Hujan kilatan mengagetkan jiwa melayang bertubrukan dan menghilang. Damai sudah tak ada lagi prasangka.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar