expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Senin, 18 Februari 2013

Lara jiwa

Resah yang menggulung menikam jiwa kemudian pecah menjadi tangis. Semudah mengucapkan kalimat "Maaf, sudahlah jangan menangis lagi" semudah itu pula tangis semakin membesar menjadikannya pusaran angin yang memporak-porandakan hati. Lebur sudah tertelan pahit.

Gambaran mata dengan senyum yang tulus adalah lukisan Tuhan paling indah, usah kau lara. Aku hanya aku. Terlalu sulit untuk mengikat aku dan kamu menjadi kita. Kisah ini takan semudah dongeng putri dari kerajaan khayal. Aku tidak di sini jiwaku mungkin memang tapi tidak ragaku. Kamu tau itu.

Bukan hanya jiwaku yang kamu butuhkan, raga ini juga kau perlukan. Maaf, karena aku tak dapat memberikan keduanya untukmu, tak ada daya walau ku coba sepenuh hati. Usah kau lara. Bukan aku tidak ingin mengikat aku dan kamu menjadi kita tapi terlalu banyak sayang di sekitarmu terlalu jahat jika aku membatasi sayang yang seharusnya memilikimu. Mohon mengertilah.

Sepenggal cerita ini sudah selesai tak semua cerita dapat berakhir bahagia. Berharaplah Tuhan berkenan menyambungnya lagi. Jika tidak cobalah terima sayang yang berada di sekitarmu. Tanpa aku. Buatlah cerita "kita" dengan aku sebagai kamu dan kamu sebagai orang yang dapat memberimu cinta. Usah kau lara.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar