expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Senin, 18 Februari 2013

Lara jiwa

Resah yang menggulung menikam jiwa kemudian pecah menjadi tangis. Semudah mengucapkan kalimat "Maaf, sudahlah jangan menangis lagi" semudah itu pula tangis semakin membesar menjadikannya pusaran angin yang memporak-porandakan hati. Lebur sudah tertelan pahit.

Gambaran mata dengan senyum yang tulus adalah lukisan Tuhan paling indah, usah kau lara. Aku hanya aku. Terlalu sulit untuk mengikat aku dan kamu menjadi kita. Kisah ini takan semudah dongeng putri dari kerajaan khayal. Aku tidak di sini jiwaku mungkin memang tapi tidak ragaku. Kamu tau itu.

Bukan hanya jiwaku yang kamu butuhkan, raga ini juga kau perlukan. Maaf, karena aku tak dapat memberikan keduanya untukmu, tak ada daya walau ku coba sepenuh hati. Usah kau lara. Bukan aku tidak ingin mengikat aku dan kamu menjadi kita tapi terlalu banyak sayang di sekitarmu terlalu jahat jika aku membatasi sayang yang seharusnya memilikimu. Mohon mengertilah.

Sepenggal cerita ini sudah selesai tak semua cerita dapat berakhir bahagia. Berharaplah Tuhan berkenan menyambungnya lagi. Jika tidak cobalah terima sayang yang berada di sekitarmu. Tanpa aku. Buatlah cerita "kita" dengan aku sebagai kamu dan kamu sebagai orang yang dapat memberimu cinta. Usah kau lara.

Sabtu, 16 Februari 2013

Prasangka

tidak ada apa-apa sebenarnya disekitar kita hanya sebuah prasangka yang menimbulkan gema yang kacau. Membuatnya seolah-olah nyata disini padahal hanya sebuah prasangka. Entah datang dari mana dari makhluk yang memang bekerja untuk selalu menggoda anak adam atau memang datang dari keresahan hati. Entalah. Jadi memang sebaiknya menjauhkan semua prasangka. Biarkan tangan Tuhan yang bergerak, biarkan jemari halusNya memutar waktu membunuh prasangka hingga datang semua kepastian bukan lagi prasangka.

Tidak perlu lagi ada dugaan yang macam-macam.

Senin, 11 Februari 2013

Senandung malam

Jengah dengan semua kebisingan terlalu penat disini. Sampai kosong rasanya lebih baik untuk memperbaiki apa yang rusak. Biarkan berdua dengan cakrawala penghanyut rasa. Bila belum terjawab jiwaku kan lepas dari tubuh ini. Mencari sendiri, tanpa perlu raga yang terlalu kotor ini. Meninggalkan sebuah nama yang tak terlalu hebat. Hanya sebuah ukiran nama di sebuah kayu di atas gundukan tanah. Hingga akhirnya pecah hujan mata. Melelehkan jiwa. Hujan kilatan mengagetkan jiwa melayang bertubrukan dan menghilang. Damai sudah tak ada lagi prasangka.