expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Kamis, 24 Januari 2013

sang pelukis senja penabur sendu

Kota hujan di akhir januari yang masih basah, ditemani seorang pelukis senja dibatas matahari yang kian condong kearah barat kembali keperaduan.



"Ya! akulah sang pelukis senja penabur sendu" teriaknya lantang

"Hahahahahaha, mengapa katamu? Mengapa? Hahahahahaha" kembali ia tertawa membanjiri sudut jalan kota hujan.

"Mungkin saya adalah satu-satunya pelukis yang hanya mengenal tiga warna. Hitam, abu-abu, dan putih" tawanya hilang raut kesedihan menggantikannya.

"Hanya ada satu waktu yang selalu saya kenang. Senja"

"Dan hanya ada tiga warna yang dapat saya lihat"

"Terlalu naif jika saya melukis hal-hal indah di dunia ini, semua dimata saya selalu sendu"

"Jiwa saya telah masuk kedalam lukisan ini, sendu yang terkumpul pada cairan tinta menghasilkan kanvas yang membentuk elegi masa lalu, dramatis bukan?"

"Bahagia telah tercabut sejak warna tinta yang biasa saya pakai dicuri Sang Maha Penguasa, menyisakan tiga warna saja"

"Selebihnya? Tidak ada. Nihil saya telah mencarinya kemana pun tapi tinta itu tetap menghilang."

"Berfikir untuk mengakhiri pekerjaan yang terasa seperti pelacur kalau kata jean marais dalam anak semua bangsa yang ditulis oleh penulis kondang itu"

"Pelacur melakukan pekerjaannya hanya untuk memuaskan keinginan seseorang namun sejatinya jiwa kita tidak ada di dalamnya. Hanya sebatas untuk menyambung hidup. Kurang lebih begitu katanya."

"Namun aku menyadari, apalagi hal yang dapat aku lakukan selain melukis. Maka sejak tinta ribuan warna terenggut dariku aku mulai mencintainya lagi walau hanya dengan tiga warna, mengisi seluruh jiwaku untuk menghasilkan ini" urainya sambil menunjuk sebuah lukisan berlatar belakang sebuah jembatan dan matahari yang kembali pulang.

"Bawalah ini! anggaplah sebagai upah mendengarkan lelaki tua ini bercerita" ia menyodorkan aebuah kanvas yang tergulung.

"Ya ya ya saya sudah dapat membaca pikiranmu, sepertinya saya ini lebih cocok jadi pendongeng bukan menjadi pelukis tak berbakat seperti ini?"

"Sudah pulang sana! hari akan merenggutmu jika tak lekas kau pulang"



Lampu jalan mulai menyala, menandakan hari semakin gelap. Kulangkahkan kaki meninggalkan pelukis itu, kubuka gulungan kanvas yang ia serahkan kepadaku. Betapa terkejutnya aku, gambar yang ada di lukisan itu adalah aku yang sedang menangis ditepi jalan dua tahun lalu melihat kecelakan mobil yang merenggut nyawa kekasihku tepat ketika matahari mulai merubah rona langit menjadi jingga. Air mata sudah tak dapat terbendung, membanjiri tanpa perlu diperintahkan.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar