expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Minggu, 29 Desember 2013

Menulis

Jadi untuk apa menulis?


Setelah sekian lama gak nulis tiba-tiba mau nulis lagi, daaaaaaaan saat itu saya menemukan mengapa saya ingin menulis. jawabannya meringankan otak melegakan perasaan terus ngerasa seneng aja setelah nulis.

Makanya kenapa selama ini gak pernah "memperdagangkan" apa yang saya tulis bukan apa-apa tapi saya merasa tulisan saya tidak menarik untuk diperdagangkan karna alasan saya menulis memang hanya untuk diri sendiri.

dan alasan lain adalah..... yagitu deh anaknya mageran dan gak bisa fokus lama-lama sama sesuatu makanya susah kalo mau komitmen bisa nulis sering-sering X)))

Sabtu, 28 Desember 2013

Penebak langit abu-abu


Hai sang penebak langit abu-abu.
Disini aku mengintipmu di ujung awan yang mengembang.
Betapa senang ketika kau melihat langit yang seperti ini.

Hai sang penebak lagit abu-abu.
Aku mengirimkan pesan melalui deret-deret air yang jatuh.
Betapa senang melihat bibirmu merekah.

Hai sang penebak langit abu-abu.
Disini aku mengintipmu, disudut awan yang berbeda.
Ternyata dugaanku salah.
Bukan langit yang berwana abu-abu yang kau rindu.
Melainkan...


Kenangan manis dipojok kepalamu yang selalu tersimpan.
-----

Selasa, 22 Oktober 2013

Kembang Kertas

Kembang kertas di sudut pencakar pikir.
Tergantung bertahun-tahun tanpa mengerti detik-detik bergulir.
Tak pandai bersenang.

Kembang kertas yang tidak ada wanginya, hingga serangga enggan mendekatinya.
Kembang kertas yang terlalu lekat serbuk sarinya, hingga angin enggan meniupkannya.

Hingga akhirnya bertahun terkubur.



Kembang kertas yang merana, hilang tanpa sempat diketahui.
Hanya sudut pencakar yang tau, tapi sayang dia tak mau menahu.



Di sudut pencakar pikir.
Berkelana selayaknya musafir, tapi aku bukan si kembang kertas.
Aku yang menemukan simpul-simpul keterkaitan cerita.


Menjadikannya sebuah frasa.

Minggu, 18 Agustus 2013

Objek

Aku rindu, rindu meracau berkicau tentang hidup.
Hidup atau cinta? Haha aku kira lebih banyak tentang cinta.
Tapi sepertinya ada yang hilang.

Di pelupuk mata tak kurasa lagi embun dingin mengalir.
Di bagian tulang rusuk tak kutemui lagi getar mematikan.

Rasanya objek yang aku maksud menghilang.

Begini rasanya.
Ketika indra tidak mampu merasakan apapun.

Hidup adalah tentang prespektif.
Pengalihan objek rasanya solusi paling tepat.
Setidaknya untuk bertahan hidup.

Dentum-dentum kembali berdetak sajak masih tertahan.
Tenggorokan belum mampu mengetarkan pita suara.
Pesan yang masih tersangkut.

Hingga objek yang kuyakini benar.
Semua pesan akan terkuak.

Kamis, 08 Agustus 2013

Ied mubarok.

Lantunan puja-puji kepada Yang Maha Kuasa terdengar di seluruh penjuru negeri.
Hari kemenangan katanya, buat saya Malam ini malam syahdu berpisah dengan bulan yang selalu dipuja.
Selalu terenyuh bukan lagi di mata tapi di kalbu.
Begitu saya selalu merindukan momen seperti ini yang selalu membuat saya bergetar.

Malam ini terasa sedikit berbeda setelah berpulannya mbak putri.
Selalu menyenangkan tapi momen menyenangkan ini masih terbalut duka.
Sudah ikhlas namun setiap mengingatnya kembali bersedih.
Tak ada yang abadi, seperti pada postingan setahun sebelumnya "sampai kapan keutuhan absolut ini terjaga?" Dan telah terjawab hanya sampai lebaran tahun lalu.

Happy ied mubarok!
May Allah always bless us.
Forgive for all my mistake, lets makes a new one.

Jumat, 02 Agustus 2013

Satu di delapan yang keduapuluh.


Selamat berkepala dua, selamat menjadi tua!
Selamat semakin galau untuk semua urusan.
Selamat semakin matang menuju busuk.


Semoga tetap dikelilingi orang-orang yang tercinta. (Semoga ditambah) (ini tjurhat) (biarin blog sendiri)
Semoga orang orang yang disekeliling saya tetap seperti ini bahagia, diberi kesehatan, dipermudah semua urusannya, dilindungi dalam rahmatNya.


Karna apalah arti saya yang bahagia di sekeliling orang yang tidak bahagia?
Lebih baik beraedih di sekeliling orang yang berbahagia, karena mereka bisa membuat kamu ikut berbahagia juga. :))

Jumat, 26 Juli 2013

Selamat Berpesta Pecandu Kata.

Kata adalah bagian terajaib yang diciptakan Tuhan untuk umatnya.
Puisi adalah rangkaian kata yang tercipta begitu keren.
Saya mencintai kata karena dengan kata saya bisa mengungkapkan kisah cinta saya.


Selamat hari puisi!
Belum terlambat untuk berpesta, mari sulangkan kata demi kata sehingga membentuk alunan puisi bersajak indah.

Sabtu, 04 Mei 2013

Karna sesuatu yang kita mau gak selalu harus kita miliki. Ketika berada pada kondisi yang sangat nyaman namun terlalu banyak pertimbangan yang dipikirkan. Dua kali cukup membuat saya terenyuh. Terima kasih.

"Apalagi sih, semuanya udah jelas ada didepan mata semua bisa aku handle percaya!"

Seharusnya luruh, tapi saya lagi lagi dan lagi mencoba memungkirinya. Akhirnya pertangkaran yang terjadi. Tidak pantas menerimanya hanya itu yang terlintas di pikiran saya kala itu.

Agil bilang "udahlah tam, jangan dianggap serius lah, namanya juga nenek lampir"

Tapi saat itu saya merasa tersadarkan.
Hahahaha. Kampret.

Ketika itu saya berjanji untuk berbahagia mulai saat itu. Tapi toh kenyataannya tidak bisa. Keluar semua cadangan airmata saya ketika terakhir kita bertemu. Terpuruk? Hahahahaha. Bukan saya gila. Tapi dua hari membuat saya kembali mengulang kalimat yang pernah diucapkan nenek lampir saat itu. efeknya? membuat saya bertahan untuk tetap menjadi waras.

Tidak semua yang kita mau yang terbaik untuk kita.
Dan lihatlah betapa kerennya dia yang ada di samping kamu sekarang.
Yang akan menemani sampai selamalamalamalamalamalamanya.

"Kemarau panjang tanpa cadangan air, tidak akan membuat basah semua ini"
"Semoga begitu, doanya yah Tam"


Karena menjadi laki-laki yang baik hatinya, selamat atas semua pencapaian ini.
Berbahagialah. Saya yakin semua akan lancar.

Minggu, 07 April 2013

Kemarin - waktu yang terlewat

Karena kemarin hanya akan menjadi waktu yang terlewat. Hidup hanya tentang kemungkinan, berputar mengitari kemungkinan berhenti ketika tersadar semua menjadi kenyataan. Merangkainya menjadi sebuah puzzel hidup. Tapi semua hanya tentang kemarin. Kemarin yang begitu mudah terlewat hingga tidak pernah lagi terbersit menjadikannya nyata.

Terima kasih.
Tapi kemarin hanya kemarin.
Selesai.
Tidak ada apa-apa lagi.
Saya telah sembuh.

Senin, 01 April 2013

Dialogue.

Hati yang tak mau dewasa, tidak mau mengerti tentang masa lalu.
Waktu yang terlewati ternyata belum mampu membuatnya dewasa.
Celaka!
Terlalu sulit untuk menatap kedua bola mata.
Mengukir senyum dan bersikap sewajarnya.


Masih cinta?


Ha ha ha.
Terurai panjang sampai marauke.


Cemburu?


Apa masih bisa disebut cemburu ketika tidak ada pengikat?
Saya bahagia sungguh.


Bahagia?


Setidaknya ada yang menggantikan posisi saya.


tidak bisa diganti!
Tetap disini.


Mungkin terlalu dini untuk mengenal.
Akhiri saja.


Sepertinya kesabaran harus melebihi jagat raya.


Mungkin, karna waktu belum bisa didefinisikan.
Lelah? Pergi saja.
Seperti yang biasa dilakukan.


Pergi untuk meninggalkan kebahagiaan.
Dan membawa kesedihan?


Entahlah.


Jumat, 01 Maret 2013

mencuci baju ketika musim penghujan

Yak! postingan ini terlahir setelah beberapa detik saya merenung ingin memutuskan akan mencuci baju atau tidak. selama perenungan saya itu tiba-tiba ingin sekali saya membagikan penenungan ini yang sangat (tidak) penting kepada pembaca post ini.

Bagi orang-orang yang tinggal di Malang tidak akan heran dengan guyuran hujan yang hampir setiap hari turun, mulai awalnya hanya sore saja kemudian suatu hari tengah malam dan kemudian menjadi random. Jadi mikir kayaknya yang cocok dikasih julukan Kota Hujan itu kayaknya Malang deh bukannya Bogor --"

Eeeets, balik lagi masalah mencuci satu hal yang paling saya benci kalo udah nyuci terus tiba-tiba hujan adalah yang pertama karena tempat jemuran dikosan gak dikasih terop jadi kalo ujan otomatis baju yang dicuci basah lagi yang kedua baju basah kalo terpaksa harus diangkat nanti jadinya bau apek.

Tapi setelah saya pikir-pikir lagi mencuci baju ketika musim hujan itu bisa menigkatkan beberapa kemampuan kita loh! Gak percaya? Percayaaa aja deh!

Nih ya saya kasih tau beberapa kemampuan yang tidak disadari akan meningkat ketika mencuci di musim hujan:

    1)Kemampuan Olah Raga 
kemampuan pada bidang olah raga akan terasah selain manfaat utama dari mencuci baju dapat melemaskan otot-otot jari tangan selain itu ketika baju yang sedang dijemur kemudian hujan turun otomatis kita akan segera berlari menuju tempat jemuran sekencang-kencangnya untuk menyelamatkan jemuran. Nah kan hal ini dapat melatih lari jarak pendek, lumayan tuh kalo ada olimpiade tingkat universitas skill kita udah keasah. Lumayan kalo menang buat kebutuhan membayar hutang. Ha ha ha.

   2)Menjadi lebih sehat
Karena kebiasaan lenyeh-lenyeh dikamar, tiduran, terus akhirnya ketiduran sampe gak sadar kalo diluar lagi ujan nah dengan seringnya mencuci di musim hujan akan meningkatkan gerak refleks kita yang berpengaruh pada syaraf-syaraf yang akan menyalurkannya ke otak, karena frekuensi pemakaiannya menjadi lebih intens jadi syaraf kita akan sehat dan (mungkin) terhindar dari penyakit stoke.

   3)Kemampuan Mengatur Strategi
Karena kebetulan jemurannya gak ada teropnya jadi pada saat kita menjemur kita harus mempertimbangkan dari mana arah angin berhembus apakah dari barat, timur, selatan, atau utara dan bagian dari tempat jemuran mana yang kira-kira dapat terlindungi oleh tembok penghalang. Sehingga baju tidak basah terkena air hujan.

   4)Kemampuan Memprediksi Cuaca
Nah disini insting dibutuhkan, kira-kira kapan waktu yang tepat untuk mencuci. Ketika hati mengatakan hari ini hujan jangan sekali-kali nekat mencuci apalagi anda sudah melihat langit sudah mendung jangan mencuci karena sudah di pastikan bahwa proses pengeringan akan terjadi semakin lama. (halah) Ketika disetiap kita mencuci selalu turun hujanhanya ada dua kemungkinan pertama insting kita memang lemah atau yang kedua memang sial bawaan lahir.

   5)Meningkatkan Kesabaran
Ini yang terakhir, sebenernya masih banyak kemampuan lainnya tapi males ngetiknya. Nah kesabaran kita diuji ketika baju yang sudah kita jemur telah kering namun lupa mengangkatnya kemudian hujan turun baju yang awalnya kering basah kuyup lagi dan ketika mau diangkat ternyata bau apek. Yak selamat! Disini kesabaran anda akan meningkat ke level yang lebih tinggi. Jadi sabar saja, jangan kemudian marah. Saya punya tips kalo udah kejadian begitu besok kalo masih ada sisa uang bulanan mending dibawa ke laundry aja! hahahaha.




Sekian, Semoga bermanfaat dan jangan pernah mengeluh mencuci di musim penghujan!!!

Senin, 18 Februari 2013

Lara jiwa

Resah yang menggulung menikam jiwa kemudian pecah menjadi tangis. Semudah mengucapkan kalimat "Maaf, sudahlah jangan menangis lagi" semudah itu pula tangis semakin membesar menjadikannya pusaran angin yang memporak-porandakan hati. Lebur sudah tertelan pahit.

Gambaran mata dengan senyum yang tulus adalah lukisan Tuhan paling indah, usah kau lara. Aku hanya aku. Terlalu sulit untuk mengikat aku dan kamu menjadi kita. Kisah ini takan semudah dongeng putri dari kerajaan khayal. Aku tidak di sini jiwaku mungkin memang tapi tidak ragaku. Kamu tau itu.

Bukan hanya jiwaku yang kamu butuhkan, raga ini juga kau perlukan. Maaf, karena aku tak dapat memberikan keduanya untukmu, tak ada daya walau ku coba sepenuh hati. Usah kau lara. Bukan aku tidak ingin mengikat aku dan kamu menjadi kita tapi terlalu banyak sayang di sekitarmu terlalu jahat jika aku membatasi sayang yang seharusnya memilikimu. Mohon mengertilah.

Sepenggal cerita ini sudah selesai tak semua cerita dapat berakhir bahagia. Berharaplah Tuhan berkenan menyambungnya lagi. Jika tidak cobalah terima sayang yang berada di sekitarmu. Tanpa aku. Buatlah cerita "kita" dengan aku sebagai kamu dan kamu sebagai orang yang dapat memberimu cinta. Usah kau lara.

Sabtu, 16 Februari 2013

Prasangka

tidak ada apa-apa sebenarnya disekitar kita hanya sebuah prasangka yang menimbulkan gema yang kacau. Membuatnya seolah-olah nyata disini padahal hanya sebuah prasangka. Entah datang dari mana dari makhluk yang memang bekerja untuk selalu menggoda anak adam atau memang datang dari keresahan hati. Entalah. Jadi memang sebaiknya menjauhkan semua prasangka. Biarkan tangan Tuhan yang bergerak, biarkan jemari halusNya memutar waktu membunuh prasangka hingga datang semua kepastian bukan lagi prasangka.

Tidak perlu lagi ada dugaan yang macam-macam.

Senin, 11 Februari 2013

Senandung malam

Jengah dengan semua kebisingan terlalu penat disini. Sampai kosong rasanya lebih baik untuk memperbaiki apa yang rusak. Biarkan berdua dengan cakrawala penghanyut rasa. Bila belum terjawab jiwaku kan lepas dari tubuh ini. Mencari sendiri, tanpa perlu raga yang terlalu kotor ini. Meninggalkan sebuah nama yang tak terlalu hebat. Hanya sebuah ukiran nama di sebuah kayu di atas gundukan tanah. Hingga akhirnya pecah hujan mata. Melelehkan jiwa. Hujan kilatan mengagetkan jiwa melayang bertubrukan dan menghilang. Damai sudah tak ada lagi prasangka.

Kamis, 24 Januari 2013

sang pelukis senja penabur sendu

Kota hujan di akhir januari yang masih basah, ditemani seorang pelukis senja dibatas matahari yang kian condong kearah barat kembali keperaduan.



"Ya! akulah sang pelukis senja penabur sendu" teriaknya lantang

"Hahahahahaha, mengapa katamu? Mengapa? Hahahahahaha" kembali ia tertawa membanjiri sudut jalan kota hujan.

"Mungkin saya adalah satu-satunya pelukis yang hanya mengenal tiga warna. Hitam, abu-abu, dan putih" tawanya hilang raut kesedihan menggantikannya.

"Hanya ada satu waktu yang selalu saya kenang. Senja"

"Dan hanya ada tiga warna yang dapat saya lihat"

"Terlalu naif jika saya melukis hal-hal indah di dunia ini, semua dimata saya selalu sendu"

"Jiwa saya telah masuk kedalam lukisan ini, sendu yang terkumpul pada cairan tinta menghasilkan kanvas yang membentuk elegi masa lalu, dramatis bukan?"

"Bahagia telah tercabut sejak warna tinta yang biasa saya pakai dicuri Sang Maha Penguasa, menyisakan tiga warna saja"

"Selebihnya? Tidak ada. Nihil saya telah mencarinya kemana pun tapi tinta itu tetap menghilang."

"Berfikir untuk mengakhiri pekerjaan yang terasa seperti pelacur kalau kata jean marais dalam anak semua bangsa yang ditulis oleh penulis kondang itu"

"Pelacur melakukan pekerjaannya hanya untuk memuaskan keinginan seseorang namun sejatinya jiwa kita tidak ada di dalamnya. Hanya sebatas untuk menyambung hidup. Kurang lebih begitu katanya."

"Namun aku menyadari, apalagi hal yang dapat aku lakukan selain melukis. Maka sejak tinta ribuan warna terenggut dariku aku mulai mencintainya lagi walau hanya dengan tiga warna, mengisi seluruh jiwaku untuk menghasilkan ini" urainya sambil menunjuk sebuah lukisan berlatar belakang sebuah jembatan dan matahari yang kembali pulang.

"Bawalah ini! anggaplah sebagai upah mendengarkan lelaki tua ini bercerita" ia menyodorkan aebuah kanvas yang tergulung.

"Ya ya ya saya sudah dapat membaca pikiranmu, sepertinya saya ini lebih cocok jadi pendongeng bukan menjadi pelukis tak berbakat seperti ini?"

"Sudah pulang sana! hari akan merenggutmu jika tak lekas kau pulang"



Lampu jalan mulai menyala, menandakan hari semakin gelap. Kulangkahkan kaki meninggalkan pelukis itu, kubuka gulungan kanvas yang ia serahkan kepadaku. Betapa terkejutnya aku, gambar yang ada di lukisan itu adalah aku yang sedang menangis ditepi jalan dua tahun lalu melihat kecelakan mobil yang merenggut nyawa kekasihku tepat ketika matahari mulai merubah rona langit menjadi jingga. Air mata sudah tak dapat terbendung, membanjiri tanpa perlu diperintahkan.


Jumat, 04 Januari 2013

Sebuah perjalanan yang berlabuh entah kemana.